
Masih lekat dalam ingatan. Waktu itu, pada batas antara malam dan pagi. Sejak matahari tergelincir meninggalkan senja, hujan menggelontor lebat sampai dahan-dahan pohon tua di jalanan rumah merunduk mencium tanah.
Hampir dua setengah jam saya memandang keluar jendela, memandangi titik-titik air yang jatuh berebutan. Hampir selama itu pula saya berbicara melalui telepon dengan perempuan mengagumkan itu.
Kapasitas otak pada jam segitu hanya tersisa setengah trance saja, dan saya terkejut bagaimana bisa menanggapi cerita dan menandingi celotehnya.
Bagaimanapun, sudah waktunya untuk mengucapkan selamat tidur.
“Mbak, sebaiknya kita tidur. Atau besok aku akan terlambat ikut kuis Statistik, entah untuk yang keberapa kalinya, dan kamu kena jewer atasanmu lagi. Ha-ha,”.
“Aha-ha-ha. Benar juga. Memang ngga kerasa kalau udah hampir subuh.. Time flies, yaa.”
“Time flies when you’re having fun, Mbak. Ya sudah, selamat tidur yaa. Jangan bermimpi.”
“He-emh, aku tahu. Mimpi mengurangi kualitas tidurku, kan? Hi-hi-hi”
“Seratus!”
“Ng.. Pandita,” tukas perempuan itu sesaat sebelum saya menutup gagang telepon, “Tahukah kamu?”
Saya terdiam sejenak, bersiap-siap.
Sebelum mengakhiri pembicaraan, kadangkala perempuan pintar ini menantang saya untuk berbalas sajak singkat, tentang apa saja yang dia pikirkan saat itu. Dan saya pun terpaksa mengerahkan semua sisa pulsa aktif di otak saya untuk memburu diksi dan kata hingga ke sudut memori, kemudian merangkaikannya menjadi bait berima.
“Aku sangat mengagumi angin”, kata perempuan itu pendek.
“Benarkah, Mbak? Kenapa?” tanya saya ingin tahu. Lega. Ternyata bukan tantangan berbalas sajak.
“Angin menciptakan padang pasir, merobohkan seisi hutan, dan membawa musik serta suara-suara ke dalam kota-kota. Ia berkelana keliling dunia menuju delapan penjuru angin, menyampaikan kecup rindu sepasang kekasih yang terpisah jauh.”
Saya menunggu ia melanjutkannya.
“Dan saat ini, aku begitu ingin menjadi sehelai angin,” mendadak suaranya melirih, “bertiup melintasi batas cakrawala, melewati ratusan kilometer yang merentang, ke tempat kamu berada..”
Ia menghentikan kalimatnya. Selama beberapa detik, dunia berhenti berputar. Sungguh itu adalah detik-detik terlama dalam hidup saya.
“Lalu, di antara hujan dan gerimis kata-kata, aku.. ingin.. menyentuh wajahmu.. dan memelukmu..”
***
Ruang kedatangan itu berada di sisi Timur bandara Adisucipto. Berdinding kaca, seperti akuarium raksasa. Dua buah conveyor belt tua melintang hingga ke tengah aula besar itu, merayap renta, lelah menggendong koper-koper besar dan berat sepanjang hidupnya.
Pintu kecil menghubungkan aula itu dengan ruang tunggu penjemput yang hiruk pikuk. Dua orang petugas berseragam berjaga di pintu kedatangan itu.
Saya beringsut menerobos kelimunan orang di sekitar pintu kedatangan hingga sampai di barisan paling depan. Saya melayangkan pandangan jauh ke balik jendela, mencari-cari sosok yang sejak tadi saya tunggu.
Perempuan pelukan angin, di manakah kamu?
tulisan ini menyentuh..
bagus sekali, agung ssi.
jadi, begitulah awal kisah manis itu?
senang sekali membacanya ^^
yahhh, ni bersambung ya gung? bersambung enggak sih?
kalopun enggak, terusin donk … *ngarep mode: on*
syapa tau bisa jadi puanjaaang ….
oya ini nadya, blogku pindah alamat
Gung,kapan nanti aku ke Jakarta,kamu tau mana ada teater berhampiran.Aku ingin sekali menonton teater di Indonesia.
Oh ya,aku ada skrip pentas,tapi ngga tau siapa yang mahu mementaskannya.huhu!
Around July or August Insya-Allah.
chang’e:
iya chang’e, barangkali begitulah ceritanya.
as I promised, bukan cerita tentang gimana menggunakan mesin cuci, kan?
nadya:
waah, nadya udah pindah toh. pantes rumah lamanya ngga bisa diakses. Hmm.. cerita ini bisa bersambung, bisa ngga. Tergantung stok ide penulis. Huihihi. Kalo mau baca kisah sebelum ini, judulnya Reminisensi
nami:
datanglah, nami. nanti kita ke teater di Salihara atau Utan Kayu, ya. Tempat penulis legendaris kesukaanmu itu
kirim skripnya! ayo kita bikin animasinya atau komiknya aja
wussshhh..
gila ya..
makin cenggih aja lo gung skarang..(pake bahasa windy).
wkwkwkw..
lanjut trus juragannn..
sekarang udah ngerasain kan dipeluk perempuan pelukan angin? asma kambuh, jatuh ke titik nadir,, cepat sembuh, bukan maksud menyindir,,halah,hahaha
aih, manisnyaaaa…..
Thank God itu bukan kisah tentang bagaimana menggunakan mesin cuci, hahaha
Oh, habis sakit ya? Gesundheit ya..
kaya cerpen tahun berapaaaaa…, gitu.
penuh metafora.
berasa baca buku balai pustaka.
tsahhh,,,keren sekali, mas…
hehe
kuis statistik??? oh big nooooo…
*tiba2 tringat sulitnya pake sofwer ini
Another great story!
tell me more… tell me more! (dengan nada seperti orang2 lagi demo.. hwehehehehe)
ya ampunnnnnn kaliannnnnn..
ya ampun mas jogja.. jujur.. two thumbs up for you two..
hmmmmhhhh..
keren bgttt..
seperti menemukan sisi lain dari orang ini..
ckckck..
*terheran-heran dan terperangah*
“Lalu diantara gerimis, dah hujan kata-kata..” Argh, mbok ini dipilemkan saja, biar saingan sama pilem-pilem pocongan atau kunti yang sliweran ndak jelas disana sini ituw ..
setuju sekali
ihi ihi..
ha ha ha..
sip gung..
mantap..
lama ndak ketemu ternyata kemampuan menulismu makin oke!!
HAIIIIIIIIIII!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
“Time flies when you’re having fun”
Mantep banget ini..:)