Halaman Arsip 2

Pelangi

Can you touch a rainbow, hold it in your hand

Would you ride a rainbow, high … (Rainbows, Bou Aliyya)

***

Rinai hujan sore itu baru saja berakhir, digantikan oleh tirai cahaya yang menyusupi celah-celah awan. Wangi tanah basah menentramkan hati siapa saja yang menghidunya. Di balik bukit itu, di antara pucuk-pucuk cemara, muncul sebentuk prisma cahaya warna-warni. Membusur sempurna melukisi kanvas langit, simfoni merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila-dan ungu.

Negeri tempat pelangi bermula, di sanalah perempuan serbuk cahaya itu berada. Parasnya seindah rembulan senja. Wangi tubuhnya seharum pandan. Namun, senyumnya tak lagi seteduh telaga. Sayap-sayapnya retak.

Dua belas purnama berlalu sejak lelaki pengejar bintang itu meninggalkannya. Ia masih hampir bisa merasakan kecupan lembut lelaki pengejar bintang itu di keningnya. „Aku takkan lama“, bisik si lelaki di pagi itu, sebelum pergi bersama tetes embun terakhir.

Butir keperakan jatuh berkilat dari sudut mata indah perempuan serbuk cahaya. Selirih angin, ia tersedu.

Perempuan serbuk cahaya itu tak ingin menjadi setegar pohon cemara maupun seindah pelangi, ia hanya ingin bersama lelaki pengejar bintang itu lagi …

:: Illustrasi dipinjam dari Deviantart.

Simpsonize Me

Setelah berlawalata ke blog Bu Guru, saya jadi ingin ikut didandani menjadi karakter The Simpsons juga.

Ternyata caranya gampang, saya hanya perlu bertandang ke situs Simpsonizeme kemudian mengunggah foto yang ingin disulap menjadi karakter kartun satir karya Matt Groening itu. Klik tombol SIMPSONIZEME, dan voila! Jadilah gambar karakter Simpson saya.

Situs Simpsonizeme dilengkapi fitur menarik yang  memungkinkan sampean dapat mengubah dan menambahkan beberapa detil pada karakter Simpson sampean, seperti gaya rambut, gaya berpakaian, detil wajah, kumis dan jenggot, hingga hewan peliharaan. Kostumisasi.

Menurut saya, fitur kostumisasi yang disediakan cukup lengkap (dan menyenangkan). Sampean bisa membuat karakter Simpson sampean menjadi semirip mungkin dengan wajah aslinya. Bagi sampean yang memakai gigi emas, ndak perlu khawatir. Sampean bisa mengubah beberapa gigi menjadi logam mulia pada menu kostumisasi facial anomalies”. Sayang, ndak ada pilihan memakai blangkon” pada menu kostumisasi assesoris.

Nah, inilah gambar saya ketika sakit kuning.. err.. maksud saya, setelah di-Simpson-kan.

Klik gambar untuk memperbesar

Masjogja sakit kuning

Kids, you tried your best and you failed miserably. The lesson is, never try. - Homer Simpson.

Halah, ndak usah dengarkan Homer, si tua absurd dan insensitif itu. Sampean boleh mencobanya kok, tunggu apa lagi? :D

Lazuardi

Baiklah perempuan lazuardi, kan kujawab senandikamu dengan tetes-tetes embun terakhir pagi hari. Tepat sebelum matahari menggeliat bangkit, menyebarkan kehangatan ke delapan penjuru angin.

Sepuluh fakta tentang saya.

1. Selalu menyimpan baik memoribilia remeh-temeh yang mempunyai memori khusus. Entah sudah berapa memory boxes yang terisi penuh oleh surat-surat (cinta), karcis menonton konser dan bioskop, tiket kereta api dan bus yang disimpan ketika berkeliling pulau Jawa hingga menjelajah dataran Eropa, pas foto dan kartu pos, serta buah tangan dari teman-teman yang hampir terlupa.

Memory boxes are kind of like diaries. You put things in them. Things that means something to you. Going thorugh my memory boxes, I realized I have done a lot in my life. It makes me want to do more..

Sedikit sentimentil? Mungkin..

2. Pernah membeli sebuah perahu kecil untuk menjelajahi sungai-sungai di pedalaman Sumatera, namun hanya sempat memakainya sekali. Perahu itu,  Juntagara, hingga kini masih tertambat di rumah seorang kawan.

3. Dulu selalu menggunakan kata “Entschuldigung” untuk mencontohkan bagaimana mengeja nama saya dengan benar. Namun tetap dipanggil “Mr. Magoo” oleh seorang teman asal Mexico, Adrian. Fiuh!

4. Suatu saat ingin tinggal di lantai 38 sebuah apartemen tinggi di jantung kota metropolis, dengan jendela-jendela besar menghadap ke jalan arteri yang dipadati oleh taksi berwarna kuning; sebuah flat minimalis yang hangat di Rue de Rivoli, Paris, yang hanya berjarak sepelemparan batu dari Musée du Louvre; dan tentu saja, rumah mungil yang nyaman dan hijau di bagian utara Yogyakarta.

5. Nyaris membakar rumah ketika pertama kali bermain korek api pada umur 5 tahun. Lanjutkan membaca ‘Lazuardi’

Eid Mubarak

Eid Mubarak!

Dengan segala kerendahan hati, saya memohon maaf sedalam-dalamnya kepada sampean semua, jika saya pernah salah kata dan salah rasa.

Iya, kepada sampean semua. Mulai dari kawan-kawan di dunia nyata, teman-teman blogger tercinta, relasi dan rekan kerja di pabrik, serta saudara dan seluruh keluarga besar di manapun berada. Sungguh, saya hanya manusia biasa yang mustahil luput dari khilaf dan dosa. Mohon maaf lahir dan batin..

Saya ucapkan selamat merayakan hari raya Idul Fitri 1429 H. Semoga amal ibadah kita selama bulan ramadhan diterima Allah SWT, dan semoga kita masih diberi kesempatan untuk bertemu bulan ramadhan tahun depan.

Salam takzim untuk keluarga di rumah :)

klik gambar untuk memperbesar

Reminisensi

Saya menunggunya di bandara Adisucipto pada suatu siang yang lengas. Tangan kanan memegang gulungan buku gambar A3. Setiap lembar halamannya dipenuhi coretan yang saya buat semalaman untuknya. Sementara tangan kiri menggenggam sebotol minuman vitamin C dosis-tinggi dingin yang baru saja dibeli di kantin bandara. Itu minuman kesukaannya.

Sembari menunggu, lamunan membawa ingatan saya bertamasya ke masa pertemuan pertama dengannya. Ya, saya memang sudah cukup sering melihatnya di koridor kampus. Tapi kami baru benar-benar berbicara pada malam itu, di sebuah acara api unggun di Pantai Kukup. Meski sudah dua setengah tahun berlalu, saya masih ingat betul setiap detail kejadian itu.

Malam itu sedang diadakan pertunjukan seni dan pesta jagung bakar di tepi pantai. Para pengisi acara mempertontonkan kebolehan mereka bernyanyi, bersandiwara, berbalas pantun, dan melawak. Saya berada di tepi kerumunan itu, berjongkok mengipasi bara api yang dipakai untuk membakar jagung.

Saat itulah perempuan itu datang menghampiri, dan bertanya, “Ehm, maaf. Apa jagungnya masih ada?”

Saya terpana. Perempuan itu berwajah malaikat. Dia memiliki mata bundar yang bersinar. Rambutnya yang hitam panjang bergelombang dibiarkan tergerai. Dia mengenakan celana jins tiga perempat biru tua sementara tubuhnya dibalut kaos lengan pendek warna merah marun, kontras dengan kulitnya yang putih ayu. Di pinggangnya, diikatkan jaket coklat dengan model sportif. Sandal jepit mungil bermotif bunga menghiasi kaki mungilnya di antara butiran pasir pantai.

Lanjutkan membaca ‘Reminisensi’

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »