Arsip untuk September, 2008

Eid Mubarak

Eid Mubarak!

Dengan segala kerendahan hati, saya memohon maaf sedalam-dalamnya kepada sampean semua, jika saya pernah salah kata dan salah rasa.

Iya, kepada sampean semua. Mulai dari kawan-kawan di dunia nyata, teman-teman blogger tercinta, relasi dan rekan kerja di pabrik, serta saudara dan seluruh keluarga besar di manapun berada. Sungguh, saya hanya manusia biasa yang mustahil luput dari khilaf dan dosa. Mohon maaf lahir dan batin..

Saya ucapkan selamat merayakan hari raya Idul Fitri 1429 H. Semoga amal ibadah kita selama bulan ramadhan diterima Allah SWT, dan semoga kita masih diberi kesempatan untuk bertemu bulan ramadhan tahun depan.

Salam takzim untuk keluarga di rumah ūüôā

klik gambar untuk memperbesar

Iklan

Reminisensi

Saya menunggunya di bandara Adisucipto pada suatu siang yang lengas. Tangan kanan memegang gulungan buku gambar A3. Setiap lembar halamannya dipenuhi coretan yang saya buat semalaman untuknya. Sementara tangan kiri menggenggam sebotol minuman vitamin C dosis-tinggi dingin yang baru saja dibeli di kantin bandara. Itu minuman kesukaannya.

Sembari menunggu, lamunan membawa ingatan saya bertamasya ke masa pertemuan pertama dengannya. Ya, saya memang sudah cukup sering melihatnya di koridor kampus. Tapi kami baru benar-benar berbicara pada malam itu, di sebuah acara api unggun di Pantai Kukup. Meski sudah dua setengah tahun berlalu, saya masih ingat betul setiap detail kejadian itu.

Malam itu sedang diadakan pertunjukan seni dan pesta jagung bakar di tepi pantai. Para pengisi acara mempertontonkan kebolehan mereka bernyanyi, bersandiwara, berbalas pantun, dan melawak. Saya berada di tepi kerumunan itu, berjongkok mengipasi bara api yang dipakai untuk membakar jagung.

Saat itulah perempuan itu datang menghampiri,¬†dan bertanya, “Ehm, maaf. Apa jagungnya masih ada?”

Saya terpana. Perempuan itu berwajah malaikat. Dia memiliki mata bundar yang bersinar. Rambutnya yang hitam panjang bergelombang dibiarkan tergerai. Dia mengenakan celana jins tiga perempat biru tua sementara tubuhnya dibalut kaos lengan pendek warna merah marun, kontras dengan kulitnya yang putih ayu. Di pinggangnya, diikatkan jaket coklat dengan model sportif. Sandal jepit mungil bermotif bunga menghiasi kaki mungilnya di antara butiran pasir pantai.

Lanjutkan membaca ‘Reminisensi’

Gado-Gado

Sepiring gado-gado,

yang kita nikmati berdua

Hidup yang singkat ini,

akan terasa panjang dan menyenangkan

jika kita jalani berdua

 

Bumbu kacang dan tauge,

dicampur dengan potongan tahu dan tempe

Aku tahu,

masa lalu memang indah

Tulisan, senyuman, dan bingkai-bingkai foto

Kini aku begitu menginginkanmu,

untuk berbagi masa depan

 

Dengan lontong, cabe, telur,

kentang, selada, dan kerupuk

Kamu melengkapiku

Kamu masa lalu,

dan kamu masa depan

 

Aku, kamu,

dan sepiring gado-gado lezat

 

Silakan klik gambar untuk memperbesar

Nostalgia

Kunjungan singkat ke Jogja kemarin, saya berlawalata ke beberapa tempat yang sudah sekian lama tidak saya kunjungi. Angkringan kopi joss, alun-alun kidul, dan tugu. Seolah menaiki mesin waktu, saya terpelanting ke lorong masa lalu melewati jendela-jendela yang disesaki antusiasme dan keriangan, penemuan dan pencarian, idealisme sekaligus ketidakbijaksanaan.

My salad days, when I was green in judgement, cold in blood” – penggalan dialog¬†Cleopatra¬†dengan kekasihnya,¬†Julius Caesar, dalam opera Anthony and Cleopatra karya Shakespeare (1606) Lanjutkan membaca ‘Nostalgia’