Archive for the 'Prosa' Category

Aku. Kamu.

Sekarang, apalagi yang coba kamu buktikan? Aku dan kamu adalah entitas yang sama sekali berbeda. Aku dan kamu, menghasilkan silogisme tak sempurna. Kita adalah paradoks.

Tunggu, “kita”? Tidak, tidak…

“Kita” adalah gagasan yang rumit. Mungkin aku dan kamu pernah satu, tapi tak lantas menjadi “kita”.

Aku. Kamu. Lumpuh. Redup. Lalu mati. Cuma tinggal gelap yang menyekap.

***

“Rebahkan tangkupmu, lepaskan perlahan..” – 507

aurevoir

Iklan

Angin

angin

 

 

 

 

 

 

 

Masih lekat dalam ingatan. Waktu itu, pada batas antara malam dan pagi. Sejak matahari tergelincir meninggalkan senja, hujan menggelontor lebat sampai dahan-dahan pohon tua di jalanan rumah merunduk mencium tanah.

Hampir dua setengah jam saya memandang keluar jendela, memandangi titik-titik air yang jatuh berebutan. Hampir selama itu pula saya berbicara melalui telepon dengan perempuan mengagumkan itu.

Kapasitas otak pada jam segitu hanya tersisa setengah trance saja, dan saya terkejut bagaimana bisa menanggapi cerita dan menandingi celotehnya. Lanjutkan membaca ‘Angin’

Au Revoir

impian-musim-semi

 

 

 

 

 

 

 

Aku sempat melihat senyum terakhirnya, sebelum ia lesap bersama tetes embun yang menguap. Ia mengucapkan selamat tinggal kepada hujan, langit kelabu, daun-daun basah, dan hati yang remuk oleh perpisahan.

Ia perempuan impian musim semi, mengejar mimpi-mimpinya hingga ke ujung cakrawala. Di atas pelangi ia menari, di antara kuntum bunga ia bercengkrama, di bawah bintang jatuh ia meriuh. Aku, pengagum terbesarnya. Bagiku, ia adalah hujan rintik yang membasahkan hati tanpa suara.

Ia bercerita tentang lelaki pemanah mimpi yang pernah ia temui. Lelaki itu tak punya apa-apa selain mimpi-mimpi, bertempur habis-habisan demi menggenggam semua mimpinya. Dalam balutan cahaya berpendar-pendar, lelaki pemanah mimpi selalu mampu menenangkan semak hati si perempuan impian musim semi.

Hampir setiap malam lelaki itu mengajaknya mengumpulkan serbuk bintang dan menuntunnya meminang rembulan. Lelaki itu menunjukkan betapa maha-luasnya kemungkinan dan mengajarkan betapa berartinya harapan. Baginya, lelaki itu mentari. Ia, pengagum terbesarnya. Lanjutkan membaca ‘Au Revoir’

Pelangi

Can you touch a rainbow, hold it in your hand

Would you ride a rainbow, high … (Rainbows, Bou Aliyya)

***

Rinai hujan sore itu baru saja berakhir, digantikan oleh tirai cahaya yang menyusupi celah-celah awan. Wangi tanah basah menentramkan hati siapa saja yang menghidunya. Di balik bukit itu, di antara pucuk-pucuk cemara, muncul sebentuk prisma cahaya warna-warni. Membusur sempurna melukisi kanvas langit, simfoni merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila-dan ungu.

Negeri tempat pelangi bermula, di sanalah perempuan serbuk cahaya itu berada. Parasnya seindah rembulan senja. Wangi tubuhnya seharum pandan. Namun, senyumnya tak lagi seteduh telaga. Sayap-sayapnya retak.

Dua belas purnama berlalu sejak lelaki pengejar bintang itu meninggalkannya. Ia masih hampir bisa merasakan kecupan lembut lelaki pengejar bintang itu di keningnya. „Aku takkan lama“, bisik si lelaki di pagi itu, sebelum pergi bersama tetes embun terakhir.

Butir keperakan jatuh berkilat dari sudut mata indah perempuan serbuk cahaya. Selirih angin, ia tersedu.

Perempuan serbuk cahaya itu tak ingin menjadi setegar pohon cemara maupun seindah pelangi, ia hanya ingin bersama lelaki pengejar bintang itu lagi …

:: Illustrasi dipinjam dari Deviantart.

Reminisensi

Saya menunggunya di bandara Adisucipto pada suatu siang yang lengas. Tangan kanan memegang gulungan buku gambar A3. Setiap lembar halamannya dipenuhi coretan yang saya buat semalaman untuknya. Sementara tangan kiri menggenggam sebotol minuman vitamin C dosis-tinggi dingin yang baru saja dibeli di kantin bandara. Itu minuman kesukaannya.

Sembari menunggu, lamunan membawa ingatan saya bertamasya ke masa pertemuan pertama dengannya. Ya, saya memang sudah cukup sering melihatnya di koridor kampus. Tapi kami baru benar-benar berbicara pada malam itu, di sebuah acara api unggun di Pantai Kukup. Meski sudah dua setengah tahun berlalu, saya masih ingat betul setiap detail kejadian itu.

Malam itu sedang diadakan pertunjukan seni dan pesta jagung bakar di tepi pantai. Para pengisi acara mempertontonkan kebolehan mereka bernyanyi, bersandiwara, berbalas pantun, dan melawak. Saya berada di tepi kerumunan itu, berjongkok mengipasi bara api yang dipakai untuk membakar jagung.

Saat itulah perempuan itu datang menghampiri, dan bertanya, “Ehm, maaf. Apa jagungnya masih ada?”

Saya terpana. Perempuan itu berwajah malaikat. Dia memiliki mata bundar yang bersinar. Rambutnya yang hitam panjang bergelombang dibiarkan tergerai. Dia mengenakan celana jins tiga perempat biru tua sementara tubuhnya dibalut kaos lengan pendek warna merah marun, kontras dengan kulitnya yang putih ayu. Di pinggangnya, diikatkan jaket coklat dengan model sportif. Sandal jepit mungil bermotif bunga menghiasi kaki mungilnya di antara butiran pasir pantai.

Lanjutkan membaca ‘Reminisensi’