Archive Page 2

Lazuardi

Baiklah perempuan lazuardi, kan kujawab senandikamu dengan tetes-tetes embun terakhir pagi hari. Tepat sebelum matahari menggeliat bangkit, menyebarkan kehangatan ke delapan penjuru angin.

Sepuluh fakta tentang saya.

1. Selalu menyimpan baik memoribilia remeh-temeh yang mempunyai memori khusus. Entah sudah berapa memory boxes yang terisi penuh oleh surat-surat (cinta), karcis menonton konser dan bioskop, tiket kereta api dan bus yang disimpan ketika berkeliling pulau Jawa hingga menjelajah dataran Eropa, pas foto dan kartu pos, serta buah tangan dari teman-teman yang hampir terlupa.

Memory boxes are kind of like diaries. You put things in them. Things that means something to you. Going thorugh my memory boxes, I realized I have done a lot in my life. It makes me want to do more..

Sedikit sentimentil? Mungkin..

2. Pernah membeli sebuah perahu kecil untuk menjelajahi sungai-sungai di pedalaman Sumatera, namun hanya sempat memakainya sekali. Perahu itu,  Juntagara, hingga kini masih tertambat di rumah seorang kawan.

3. Dulu selalu menggunakan kata “Entschuldigung” untuk mencontohkan bagaimana mengeja nama saya dengan benar. Namun tetap dipanggil “Mr. Magoo” oleh seorang teman asal Mexico, Adrian. Fiuh!

4. Suatu saat ingin tinggal di lantai 38 sebuah apartemen tinggi di jantung kota metropolis, dengan jendela-jendela besar menghadap ke jalan arteri yang dipadati oleh taksi berwarna kuning; sebuah flat minimalis yang hangat di Rue de Rivoli, Paris, yang hanya berjarak sepelemparan batu dari Musée du Louvre; dan tentu saja, rumah mungil yang nyaman dan hijau di bagian utara Yogyakarta.

5. Nyaris membakar rumah ketika pertama kali bermain korek api pada umur 5 tahun. Lanjutkan membaca ‘Lazuardi’

Iklan

Eid Mubarak

Eid Mubarak!

Dengan segala kerendahan hati, saya memohon maaf sedalam-dalamnya kepada sampean semua, jika saya pernah salah kata dan salah rasa.

Iya, kepada sampean semua. Mulai dari kawan-kawan di dunia nyata, teman-teman blogger tercinta, relasi dan rekan kerja di pabrik, serta saudara dan seluruh keluarga besar di manapun berada. Sungguh, saya hanya manusia biasa yang mustahil luput dari khilaf dan dosa. Mohon maaf lahir dan batin..

Saya ucapkan selamat merayakan hari raya Idul Fitri 1429 H. Semoga amal ibadah kita selama bulan ramadhan diterima Allah SWT, dan semoga kita masih diberi kesempatan untuk bertemu bulan ramadhan tahun depan.

Salam takzim untuk keluarga di rumah 🙂

klik gambar untuk memperbesar

Reminisensi

Saya menunggunya di bandara Adisucipto pada suatu siang yang lengas. Tangan kanan memegang gulungan buku gambar A3. Setiap lembar halamannya dipenuhi coretan yang saya buat semalaman untuknya. Sementara tangan kiri menggenggam sebotol minuman vitamin C dosis-tinggi dingin yang baru saja dibeli di kantin bandara. Itu minuman kesukaannya.

Sembari menunggu, lamunan membawa ingatan saya bertamasya ke masa pertemuan pertama dengannya. Ya, saya memang sudah cukup sering melihatnya di koridor kampus. Tapi kami baru benar-benar berbicara pada malam itu, di sebuah acara api unggun di Pantai Kukup. Meski sudah dua setengah tahun berlalu, saya masih ingat betul setiap detail kejadian itu.

Malam itu sedang diadakan pertunjukan seni dan pesta jagung bakar di tepi pantai. Para pengisi acara mempertontonkan kebolehan mereka bernyanyi, bersandiwara, berbalas pantun, dan melawak. Saya berada di tepi kerumunan itu, berjongkok mengipasi bara api yang dipakai untuk membakar jagung.

Saat itulah perempuan itu datang menghampiri, dan bertanya, “Ehm, maaf. Apa jagungnya masih ada?”

Saya terpana. Perempuan itu berwajah malaikat. Dia memiliki mata bundar yang bersinar. Rambutnya yang hitam panjang bergelombang dibiarkan tergerai. Dia mengenakan celana jins tiga perempat biru tua sementara tubuhnya dibalut kaos lengan pendek warna merah marun, kontras dengan kulitnya yang putih ayu. Di pinggangnya, diikatkan jaket coklat dengan model sportif. Sandal jepit mungil bermotif bunga menghiasi kaki mungilnya di antara butiran pasir pantai.

Lanjutkan membaca ‘Reminisensi’

Gado-Gado

Sepiring gado-gado,

yang kita nikmati berdua

Hidup yang singkat ini,

akan terasa panjang dan menyenangkan

jika kita jalani berdua

 

Bumbu kacang dan tauge,

dicampur dengan potongan tahu dan tempe

Aku tahu,

masa lalu memang indah

Tulisan, senyuman, dan bingkai-bingkai foto

Kini aku begitu menginginkanmu,

untuk berbagi masa depan

 

Dengan lontong, cabe, telur,

kentang, selada, dan kerupuk

Kamu melengkapiku

Kamu masa lalu,

dan kamu masa depan

 

Aku, kamu,

dan sepiring gado-gado lezat

 

Silakan klik gambar untuk memperbesar

Nostalgia

Kunjungan singkat ke Jogja kemarin, saya berlawalata ke beberapa tempat yang sudah sekian lama tidak saya kunjungi. Angkringan kopi joss, alun-alun kidul, dan tugu. Seolah menaiki mesin waktu, saya terpelanting ke lorong masa lalu melewati jendela-jendela yang disesaki antusiasme dan keriangan, penemuan dan pencarian, idealisme sekaligus ketidakbijaksanaan.

My salad days, when I was green in judgement, cold in blood” – penggalan dialog Cleopatra dengan kekasihnya, Julius Caesar, dalam opera Anthony and Cleopatra karya Shakespeare (1606) Lanjutkan membaca ‘Nostalgia’

Caesura

Seperti spasi yang memberikan secarik makna di antara kata.  Layaknya jeda antar baris yang memberi arti untaian liris. Kejap yang memberi irama pada kepak sayap rama-rama senja.

Begitu pula kehidupan. Ia juga butuh rehat. Caesura. Lanjutkan membaca ‘Caesura’

Preambule

Hampir dua tahun berlalu sejak saya memesan tempat di rumah blog ini, tapi belum satu posting pun terpampang. Saya memang penunda yang baik. Saya selalu bisa menemukan alasan bagus untuk menunda menulis hari ini, keesokan harinya, dan hari esoknya lagi. Begitu seterusnya. Akhirnya saya tidak menulis apapun, sampai sekarang.

Hingga beberapa hari yang lalu ketika ayah saya berkata dengan bijak, “A thousand-miles of journey starts with one step, jadi jangan pernah takut untuk memulai..”. Dia benar, saya harus memulai. Termasuk mulai mengisi halaman blog ini. Lanjutkan membaca ‘Preambule’