Posts Tagged 'fiksi'

Angin

angin

 

 

 

 

 

 

 

Masih lekat dalam ingatan. Waktu itu, pada batas antara malam dan pagi. Sejak matahari tergelincir meninggalkan senja, hujan menggelontor lebat sampai dahan-dahan pohon tua di jalanan rumah merunduk mencium tanah.

Hampir dua setengah jam saya memandang keluar jendela, memandangi titik-titik air yang jatuh berebutan. Hampir selama itu pula saya berbicara melalui telepon dengan perempuan mengagumkan itu.

Kapasitas otak pada jam segitu hanya tersisa setengah trance saja, dan saya terkejut bagaimana bisa menanggapi cerita dan menandingi celotehnya. Lanjutkan membaca ‘Angin’

Reminisensi

Saya menunggunya di bandara Adisucipto pada suatu siang yang lengas. Tangan kanan memegang gulungan buku gambar A3. Setiap lembar halamannya dipenuhi coretan yang saya buat semalaman untuknya. Sementara tangan kiri menggenggam sebotol minuman vitamin C dosis-tinggi dingin yang baru saja dibeli di kantin bandara. Itu minuman kesukaannya.

Sembari menunggu, lamunan membawa ingatan saya bertamasya ke masa pertemuan pertama dengannya. Ya, saya memang sudah cukup sering melihatnya di koridor kampus. Tapi kami baru benar-benar berbicara pada malam itu, di sebuah acara api unggun di Pantai Kukup. Meski sudah dua setengah tahun berlalu, saya masih ingat betul setiap detail kejadian itu.

Malam itu sedang diadakan pertunjukan seni dan pesta jagung bakar di tepi pantai. Para pengisi acara mempertontonkan kebolehan mereka bernyanyi, bersandiwara, berbalas pantun, dan melawak. Saya berada di tepi kerumunan itu, berjongkok mengipasi bara api yang dipakai untuk membakar jagung.

Saat itulah perempuan itu datang menghampiri, dan bertanya, “Ehm, maaf. Apa jagungnya masih ada?”

Saya terpana. Perempuan itu berwajah malaikat. Dia memiliki mata bundar yang bersinar. Rambutnya yang hitam panjang bergelombang dibiarkan tergerai. Dia mengenakan celana jins tiga perempat biru tua sementara tubuhnya dibalut kaos lengan pendek warna merah marun, kontras dengan kulitnya yang putih ayu. Di pinggangnya, diikatkan jaket coklat dengan model sportif. Sandal jepit mungil bermotif bunga menghiasi kaki mungilnya di antara butiran pasir pantai.

Lanjutkan membaca ‘Reminisensi’